KEMBALI KEPADA KHITHTHAH SISTEM PERWAKILAN

Admins     16.49  No comments
Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si.

Pasca reformasi, Indonesia mengalami euforia demokrasi dan mengalami liberalisasi dengan sangat cepat dan luar biasa. Walaupun sila ke-4 Pancasila menyatakan dengan tegas “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”, tetapi kata demokrasi seolah menjadi mantra yang membius dan melenakan para pengambil kebijakan, terutama di tingkat pusat. Presiden dan wakil presiden yang sebelumnya dipilih dalam lembaga permusyawaratan (MPR), kemudian dipilih secara langsung oleh rakyat dimulai pada Pilpres 2004.

Jadilah demokrasi Indonesia menjadi ultra liberal. Dikatakan ultra liberal, karena mekanisme demokrasi untuk memilih presiden dan wakil presiden RI lebih liberal dibandingkan Amerika Serikat yang sering disebut sebagai biang negara dengan paham liberal. Sebab, di Amerika, presiden dan wakil presiden ditentukan oleh electoral college, bukan popular vote.

Kasus yang paling fenomenal karena mekanisme ini adalah kemenangan Bush yunior atas Algore, walaupun perolehan suara dukungan partai yang mengajukan Bush lebih kecil dibandingkan Algore. Sedangkan di Indonesia, perolehan suara pemilihlah yang menentukan. Asal memperoleh suara dukungan terbanyak dari pemilih, maka pasangan presiden/wakil presiden menjadi pemenang Pemilu.

Selang hanya kurang lebih dua tahun saja setelah mekanisme ultra liberal tersebut diterapkan untuk memilih pasangan presiden dan wakil presiden, mekanisme tersebut juga diterapkan untuk memilih kepala daerah, baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi setelah dilakukan revisi terhadap Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Inisiatif untuk menyelenggarakan Pilkada secara langsung dilatarbelakangi terutama oleh fenomena praktik politik uang yang terjadi di DPRD, melibatkan para calon kepala daerah dan anggota DPRD, pada setiap menjelang pemilihan kepala daerah.

Karena itu, para tokoh elite politik di tingkat nasional, yang memiliki kewenangan legislasi, melihat signifikansi perubahan mekanisme dari pemilihan oleh DPRD menjadi pemilihan secara langsung. Asumsi mereka saat itu, jika dipilih secara langsung oleh rakyat, maka tidak akan ada lagi praktik politik uang, karena jumlah pemilih terlalu banyak.

Namun, ternyata asumsi tersebut keliru total. Ternyata, walaupun jumlah pemilih sangat banyak, tetap saja para calon kepala daerah yang berkompetisi untuk memperebutkan posisi tertinggi dalam rumpun kekuasaan eksekutif daerah tersebut seolah berlomba-lomba untuk membeli suara. Akibatnya, praktik politik tetap saja terjadi, bahkan menjadi sangat masif.

Taruhlah masalah tingginya anggaran penyelenggaraan Pilkada sebagai sesuatu yang bisa diabaikan, tetapi ternyata ada dampak negatif lain yang sesungguhnya sangat memprihatinkan.

Dalam setiap penyelenggaraan Pilkada, hampir selalu terjadi konflik horizontal yang memakan korban nyawa. Bahkan baru-baru ini, saya berkesempatan bertemu dengan beberapa tokoh Papua yang datang ke Jakarta untuk keperluan menyempurnakan aturan main tentang Otsus Papua, yang menginginkan agar Pilkada dikembalikan lagi ke DPRD. Menurut mereka, di daerah-daerah mereka sering jatuh korban dari puluhan sampai ratusan nyawa dalam setiap Pilkada. Dan dalam adat mereka, harus ada semacam ritual “ganti kepala” sebagai syarat kepala daerah yang terpilih mendapatkan legitimasi dan bisa menjalankan roda pemerintahan daerah. Namun, untuk itu, diperlukan biaya hampir lima puluh milyar.

Visi Musyawarah

Para pendiri bangsa Indonesia sesungguhnya telah memiliki visi yang jauh ke depan tentang mekanisme pengambilan keputusan untuk negara-bangsa Indonesia. Nampaknya, mereka memiliki paradigma yang sangat komprehensif mengenai Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa yang sangat besar dan sangat kaya kebhinnekaan dengan segala konsekuensinya. Karena itu, dalam konteks pengambilan keputusan, meraka menjadikan mekanisme permusyawaratan/perwakilan sebagai pilihan. Sampai-sampai hal tersebut diletakkan dalam salah satu sila Pancasila sebagai dasar negara. Dengan mekanisme ini, diharapkan bisa dilahirkan produk kebijakan politik yang baik dan sesuai dengan situasi, kondisi, dan jiwa negara-bangsa Indonesia yang harus terus mengalami kemajuan. Terlebih konsep musyawarah sesungguhnya tidak akan memungkinkan lahir kebijakan politik yang buruk.

Namun, pasca reformasi, terjadi euforia demokrasi yang tidak terkendali. Sistem demokrasi liberal kemudian diadopsi secara serampangan. Padahal situasi dan kondisi negara-negara Barat yang menganut demokrasi liberal jauh berbeda dengan situasi dan kondisi negara-bangsa Indonesia. Indonesia bahkan bisa dikatakan negara yang sangat unik dibandingkan dengan negara-negara lain di seluruh muka bumi ini. Jika ras dan agama di negara-negara Barat relatif homogen, keduanya di Indonesia sangatlah beragam. Realitas inilah yang nampaknya ditangkap dengan sangat baik oleh para pendiri bangsa, sehingga bahkan lahirlah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Inilah yang tidak dilihat oleh para politisi pasca reformasi, sehingga kemudian menjadikan Indonesia menjadi sangat berbeda dengan visi para pendiri bangsa yang telah melihat Indonesia dengan sangat visioner.

Pengalaman-pengalaman yang muncul sebagai ekses negatif penyelenggaraan demokrasi ultra liberal di Indonesia, seharusnya menyadarkan para pengambil kebijakan di negeri ini bahwa negara-bangsa kita benar-benar adalah negara-bangsa yang sangat unik. Karena itu, sistem politiknya pun tidak bisa secara latah diadopsi dari negara-negara lain yang memiliki latar belakang lingkungan yang juga sangat berbeda.

Dan kesadaran ini mestinya membuat mereka memiliki sikap baru bahwa hanya meniru sebuah sistem, tak terkecuali sistem politik, tertentu tanpa mempertimbangkan segala hal yang melingkupinya, sesungguhnya merupakan indikator kompleks rendah diri sebagai warga bangsa yang sesungguhnya juga memiliki kelebihan-kelebihan tertentu dibandingkan negara-negara lain.

Dalam konteks ini, Indonesia tidak perlu malu “dituduh” tidak demokratis oleh negara-negara lain hanya karena memilih pemimpin-pemimpinnya melalui lembaga perwakilan. Jika seluruh pemimpin eksekutif, dari level pusat sampai kabupaten/kota, dipilih kembali oleh lembaga legislatif, maka sesungguhnya itu justru mengembalikan jati diri negara-bangsa yang berdasarkan Pancasila. Pancasila inilah yang menjadi khiththah dalam berbangsa dan bernegara Indonesia. Dan inilah demokrasi ala Indonesia, sebagaimana banyak negara lain yang memiliki mekanisme beragam, tetapi juga tetap mengklaim sebagai demokratis.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

*Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ
Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
(Dimuat Harian Umum Pelita, Rabu 10/9/2014)

Bila Istri Cerewet

Admins     20.30  No comments
Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.

Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku,? akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.

Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

WallahuAlam.

(Oleh : Ahmad Bustam)

*Sumber: dudung.net, artikelmuslimah

Di Mana Pembunuh Munir Bersembunyi?

Admins     16.30  No comments
Dalam kesempatan wawancara dengan media jelang peringatan 10 tahun meninggalnya Munir, yang jatuh pada tanggal 7 September, Suciwati yang mengaku mendukung pasangan Joko Widodo-JK itu berharap pasangan tersebut bisa lebih baik dari Presiden Susilo Bambang Yudhyono-Wakil Presiden Boediono dalam mengungkap kasus Munir.

Nampaknya harapan Suciwati akan pupus, seiring pernyataan JK yang menegaskan bahwa kasus Munir sudah selesai, meskipun pembunuh yang sesungguhnya masih bebas berkeliaran, bahkan mungkin berada sangat dekat dengannya sekarang.

"Sudah di ranah hukum semua kok, Pelakunya sudah dihukum," Kata JK saat ditemui di Universitas Islam Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu 3 September 2014.

JK mungkin lupa. Pollycarpus Budihari Priyanto, memang divonis 14 tahun kurungan oleh Pengadilan Jakarta Pusat, pada tanggal 1 Desember 2005.

Namun akhirnya, tanggal 4 Oktober 2006, MA  menyatakan, Pollycarpus tidak terbukti melakukan pembunuhan pada Munir.

Pollycarpus hanya divonis 2 tahun penjara karena memalsukan surat tugas. Sementara otak pembunuhan dan pelaku pembunuhan belum berhasil diungkap, hingga saat ini.

Munir diracun dalam perjalanannya menaiki pesawat Garuda Indonesia dari Jakarta menuju Amsterdam dengan satu kali transit di Changi, Singapura.

Dalam persidangan sempat disebut nama Muchdi Purwoprandjono yang saat itu menjabat sebagai Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN), dan AM Hendropriyono yang saat itu menjabat kepala BIN.

Kedua nama Jendral ahli intelijen itu pada pemilihan presiden (pilpres) 2014, mendukung pasangan Jokowi-JK.

Salam Gigit Jari : JK Anggap Kasus Munir Sudah Selesai

Admins     14.25  No comments
Salam ini mungkin sesuai untuk disampaikan kepada para aktivis HAM yang dulu begitu teguh menuntut penyelesaian kasus Munir.

Para aktivis HAM berharap, di tangan  Jokowi - JK, kasus yang tak pernah berhasil mengungkap pembunuh Munir yang sesungguhnya. akan mampu diselesaikan oleh Presiden - Wakil Presiden yang telah mereka pilih dan perjuangkan itu.

Apa lacur, Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla (JK), menilai kasus kematian aktivis hak asasi manusia (HAM), Munir Said Thalib, pada 7 September 2004 lalu sudah selesai.

Sudah di ranah hukum semua kok, Pelakunya sudah dihukum," Kata JK saat ditemui di Universitas Islam Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu 3 September 2014.

Pilot Garuda Indonesia, Pollycarpus Budihari Priyanto, yang sempat dituduh meracuni Munir sudah dihukum dua tahun penjara karena pemalsuan surat. Tak pernah ada pelaku yang dihukum pengadilan karena telah terbukti membunuh Munir.

Dalam kesempatan tersebut JK mengatakan bila sesuai Undang-undang, maka bukan tidak mungkin pemerintah membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc untuk menindak pelaku pelanggaran HAM.

"Nikah, Mudah atau Susah?" | Catatan Akhwat

Admins     11.30  No comments
Dulu, saya mengira setiap orang yang mau menikah di usia muda itu berarti sudah pasti siap lahir batin untuk membangun rumah tangga.

Saya sendiri sudah bersiap-siap menikah sejak SMA, saya baca berbagai buku tentang pernikahan, baik dari tinjauan psikologis, agama, kesehatan, bahkan buku-buku yang bercerita tentang tragedi pernikahan seperti perselingkuhan, poligami, dllsb. Saya baca semuanya memang untuk mempersiapkan mental.

Pikiran saya saat itu sederhana saja... Kalau cepat atau lambat saya pasti menikah, kenapa tidak bersiap-siap? Kalaupun ternyata jodoh saya tidak ada di dunia ini, setidaknya Allah sudah melihat usaha saya. Target saya, usia 19 tahun saya sudah siap menikah.

Saya juga sudah melobi orangtua agar diizinkan nikah muda, padahal saat itu saya belum punya calon. Saya juga sudah bicarakan ke dua orang kakak perempuan saya kalau saya minta izin menikah duluan. Saya sedemikian bersiap-siap karena saya menganggap pernikahan adalah hal yang penting.

Sedangkan untuk mendapatkan pekerjaan bagus saja, teman-teman saya rela belajar tinggi-tinggi sampai S1, S2, mengeluarkan uang yang cukup banyak, rela membeli berbagai judul buku, begadang untuk mengerjakan tugas, maka logika saya adalah... Aneh banget kalau untuk pernikahan, yang dipersiapkan hanya masalah gedung resepsi, calon pengantinnya, dana hajatan, menu catering, kocak! Padahal sebagian besar orang menghabiskan usianya dalam bingkai pernikahan.

Bagi saya, siap-siap nikah itu lebih penting pada visi-misi dan juga mental. Mental untuk mau memberi dan diberi, mental untuk mau mengerti dan dimengerti, mental untuk menerima kelebihan dan juga kekurangan pasangan, mental untuk dapat menerima perbedaan. Dalam pikiran saya, menikah itu bukan finish, melainkan start!

Makanya saya cukup syok mendapati fakta bahwa banyak juga perempuan/akhwat yang menikah muda tapi tanpa persiapan, mereka cuma berpikiran enaknya menikah, kalau jodoh udah datang yaa jangan ditolak, daripada pacaran mending langsung nikah. Yaa... Bener sih, tapi pernikahan kan nggak sesederhana itu!

Bayangkan kalau setelah menikah ternyata langsung hamil, kondisi tubuh dan mood perempuan hamil tuh beda banget loh! Cium bau asap knalpot aja bisa mual, bawaannya jadi males dan gampang emosi.

Belum lagi kalau sudah lahiran, mengurus anak tanpa adanya persiapan mental menjadi seorang ibu, bisa berabe! Ditambah lagi, banyak juga yang meskipun memakai KB, tetap tidak mempan, akhirnya tiap tahun melahirkan. Terbayang bagaimana kondisi psikis seseorang yang menikah tanpa persiapan? Masih banyak kasus-kasus lainnya yang membuat pernikahan tampak susah, sebenarnya bukan pernikahannya yang susah, tapi karena kitanya yang tidak mempersiapkan diri dengan baik.

Ibarat mau menghadapi ujian, tapi nggak pernah belajar materi ujiannya, ketika dirasa soalnya susah-susah yaa jangan salahkan siapa-siapa. Sedangkan orang-orang yang sudah mempersiapkan diri saja belum tentu bisa jawab soal ujian dengan baik... Ya kan?

Saya ingin mengatakan bahwa segala sesuatu sebenarnya relatif mudah asalkan kita persiapkan sebelumnya. Terutama adalah mempersiapkan hati/ mental. Saya sendiri telah merasakan perjalanan 7 tahun pernikahan, alhamdulillah pernikahan membuat saya lebih dewasa dan bahagia. Jadi lebih menghargai perbedaan, lebih mampu memaknai tanggungjawab, lebih dapat menikmati hidup.

Badai besar pernah menerpa rumah tangga kami, sekarang sudah berlalu, tapi bukan tidak mungkin di masa depan akan ada lagi, tapi alhamdulillaah... Yang namanya rumus hidup itu memang sederhana saja, jadi... Apapun persoalannya, rumusnya yaa itu-itu saja, demikian juga dalam pernikahan.

Jika ingin pernikahan terasa mudah, sebelum menghadapinya, persiapkanlah diri terlebih dulu. Baik secara materil, terlebih lagi non materil. Walaupun pernikahan ibarat berenang, tidak mungkin bisa jago hanya dengan membaca teori, melainkan harus langsung praktek. Tapi kalau tanpa persiapan apa-apa, bisa jadi tenggelam cuma karena kaki keram. Konyol kan? Betapa banyak pernikahan karam hanya karena masalah sepele, misalnya karena tidak mengerti perbedaan komunikasi laki-laki dan perempuan.

Kalau ingin merasakan pernikahan yang susah, tidak perlu siap-siap, hindari saja pernikahan sebisa-bisanya. Namun yang namanya fitrah, makin dihindari... Ironisnya justru makin mendekat.

Sekarang, pilihan di tangan kita. Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat untuk sebuah persiapan. Bersiap-siaplah, sisanya... Percayakan pada Allah saja! Ia paling tahu yang terbaik untuk diri kita.

Semoga Allah kan selalu memudahkan dan memberkahi setiap urusan kita, termasuk urusan membina rumah tangga. Aamiin.

(Syamsa Hawa)

_______
*Penulis dengan nama asli Shinta Dewi Indriani ini merupakan Pemimpin Redaksi Annida (2011-sekarang). Lulusan Sastra Cina, UI 2008.

sumber: http://annida-online.com/artikel-9359-nikah-mudah-atau-susah.html

Upah Buruh Versi BKPM?

Admins     09.03  No comments
CT Sambut Baik Konsep Upah Versi BKPM

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tengah menyiapkan formula penetapan upah yang dinilai lebih adil bagi pekerja, investor, dunia usaha maupun pemerintah. Usulan tersebut disambut baik Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang baru Chairul Tanjung.

Demikian diutarakan Kepala BKPM Mahendra Siregar usai menghadiri rapat koordinasi dengan Menko Perekonomian di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terkait beberapa prioritas utama BKPM yang menjadi prioritas dalam sisa lima bulan sisa waktu pemerintahan, Jakarta, Selasa (20/5/2014).

“Kurang lebih sama (tanggapan Menko) dengan yang saya usulkan bahwa isu yang memang harus kita hadapi terlepas pemerintahan yang ini atau yang akan datang harus kita selesaikan,” tutur Mahendra.

Seperti diketahui, dengan melakukan komunikasi yang intens dengan beberapa pemangku kepentingan serta dewan penetapan upah, BKPM tengah merumuskan sebuah formula penetapan upah yang dirasakan lebih adil bagi semua pihak.

“Benar dari segi periode memang putusannya pas di pemerintahan baru. Tapi dari segi persiapan kan gak bisa dalam dua atau tiga hari gitu keluar begitu saja. Jadi terus jalankan persiapannya nanti dilihat bagaimana prosesnya lebih lanjuta,” terangnya.

Mahendra menjelaskan, kurang lebih sembilan provinsi upah minimumnya telah berada di atas standar komponen hidup layak (KHL). Yang menjadi masalah, lanjutnya, adalah ketika besaran upah minimum dinaikan, tidak ada aturan yang bisa mengatur soal nasib besaran upah para pekerja yang upanya sudah berada di atas KHL.

“Sekarang karena yang untuk di atas KHL itu tidak ada sistemnya maka yang dipakai adalah kalau yang di bawah KHL untuk upah minimum naiknya 10 persen, naiknya 30 persen maka yang di atas KHL naiknya 30 persen juga. Itu yang namanya upah sundulan. Padahal kan basisnya apa? Lalu siapa yang bisa menanggung?” jelasnya.

Menurut dia, seharusnya para pekerja yang telah diupah di atas standar besaran KHL, proses kenaikannya didasarkan pada tingkat produksivitasnya dan tidak bisa didasarkan lagi pada KHL.

Mahendra mengaku telah membangun komunikasi dengan berbagai stakeholder terkait guna memperoleh hasil yang lebih lengkap. “Saya juga konsultasi dengan dewan pengupahan nasional dan juga beberapa serikat pekerja dan apindo, mudah-mudahan lah ini kita bisa berjalan terus. Apakah nanti merupakan keputusan dari pemerintah ini ataukah pemerintah yang akan datang,” pungkasnya.

http://economy.okezone.com/read/2014/05/20/20/987616/ct-sambut-baik-konsep-upah-versi-bkpm

KEMISKINAN MENGGUGAT | Oleh @ErieSudewoID

Admins     20.30  No comments
Simpul terkuat negara terletak pada simpul terlemahnya, yaitu kemiskinan. Lalu, bagaimana jika #KemiskinanMenggugat ?

1. Rasulullah SAW bersabda: “Bisakah kita tidur nyenyak sementara tetangga di sebelah kelaparan”. Pesan sederhana, tapi daleeem bingit ...

2. Bersyukurlah yg kaya. Dg kekayaannya, dia leluasa bantu fakir miskin. Tak usah bantu satu kampung. Atasi 1 orang miskin saja, masya Allah

3. Bersyukurlah yg cerdas. Cerdasnya bisa atur strategi dan cara utk atasi kesulitan orang miskin. Maka subhanallah, social entrepreneur

4. Beruntunglah org kaya & org cerdas, berkolaborasi atasi kemiskinan. Jalinan sinerji ini jadi kekuatan dahsyat. Memang, Allahu Akbar

5. Rogoh kocek keluarkan ZIS itu mulia. Tapi manajemen meyakini, membuat organisasi itulah karya sesungguhnya | #KemiskinanMenggugat

6. Dengan organisasi, kerumunan dibariskan. Langkah diayunkan serentak. Kekuatan dipadukan. Lalu visi jadi biduk kemana organisasi bergerak

7. Pepatah Arab bilang: “Jika kau ingin cepat, jalanlah sendiri. Jika ingin berjalan jauh, melangkahlah bersama-sama” | #KemiskinanMenggugat

8. Ketika kau ingin bekerja sendiri, kemampuan menyelesaikan hanya tergantung pada dirimu semata | #KemiskinanMenggugat #CharacterBuilding

9. Ketika kau tak ingin bekerja sendiri, pekerjaan bukan hanya lebih ringan, tapi dengan tim banyak hal bisa dicapai | #KemiskinanMenggugat

10. Saat rogoh kocek sendiri, dasar kantong langsung tersentuh. Itulah kocek kita, dangkal. Alias uang terbatas | #KemiskinanMenggugat

11. Atasi si miskin sendirian, sehebat-hebatnya ya begitu-begitu saja. Saat kita sakit, redup sudah kemampuan bantu membantu. Selesai kan!

12. Di organisasi, yg kita tak mampu pun bisa terwujud. Buat sekolah, pabrik, home industry, kampung wakaf dan perumahan si miskin

13. Dan yg harusnya paling beruntung adalah pejabat negara. Mereka punya jabatan, kekuasaan, wewenang, uang dan organisasi --> pemerintahan

14. Apapun yang dilakukan pejabat negara jelas sah. Negara punya kebijakan, kita tak bisa apa-apa. Buat UU, kita tak tahu dan tiba-tiba ada

15. Lalu mengapa negara makin sulit capai welfare state? Bicara ke-MAMPU-an harusnya sudah selesai. Sebab seluruhnya sudah di tangan pejabat

16. Soal ke-MAU-an, ini masalahnya. MAMPU dan MAU berbeda. Banyak yang mau tapi tak mampu. Ada yang mampu tapi tak mau #KemiskinanMenggugat

17. Pertanyaannya kini: “Sungguh-sungguhkah pejabat MAU bekerja demi kemakmuran bangsa?” Soal fasilitas, bukankah sudah lebih dari cukup?

18. Kelola negara itu ibarat kelola keluarga. Dengan normal-normal saja, masing-masing keluarga punya cara dan ikhtiar atasi kesulitan hidup

19. Jika anda dari keluarga normal, lebih sulit mana : Atasi kemiskinan keluarga atau hendak jadi kaya raya? #KemiskinanMenggugat

20. Mengapa jadi sulit, sebenarnya kembali pada cara berpikir dan keinginan kita sendiri. Penuhi kebutuhan lebih mudah daripada keinginan

21. Pertama, lihat, sebelum menikah, laki-laki dan perempuan sudah mimpi model keluarga, punya berapa anak dan rumah mungil pun cukup

22. Tanpa sadar inilah rencana. Punya 1 atau 10 anak, itu SUNNAH. Tinggal kita jelaskan nanti ke malaikat alasan mengapa 1, 3 atau 10 anak

23. Saat punya anak, WAJIB kita pelihara baik-baik. Jika tak sungguh-sungguh merawat, khawatir ini jadi beban tanggung jawab kita pd Allah

24. Saat berpikir ingin punya anak, beda dengan merawat. Berpikir mudah, merawat? Bukan hanya rezeki. Tapi ada hidup setelah mati kan?

25. Bangun gedung 50 lantai mudah. Tapi membangun 1 jiwa anak, sampai Yaumil Akhir tak selesai. Bangun 10 jiwa anak? #KemiskinanMenggugat

26. Apakah jiwa dalam diri kita sebagai orang tua sudah betul terbina untuk tunduk padaNya? Selain hati kita, hanya Allah yang Maha Tahu

27. Ulat bulu, belatung dan semut memang sudah dijamin rezekinya. Tapi ingat binatang makan sesuai kebutuhan dan hanya sekadar untuk hidup

28. Hawa nafsu manusia berbeda. Keserakahan kita ingin lahap apapun untuk 7 turunan. Tatanan rusak, yang imbasnya menjungkal siapapun

29. Saat tak mampu penuhi kebutuhan anak, bukankah ini bencana? Bencana itu akibat orang lain, atau punya anak kita anggap hal kecil?

30. Saat anak-anak terlantar, kurang makan dan pendidikan, bukankah kita ikut lahirkan dan tambah deret kemiskinan? #KemiskinanMenggugat

31. Kemiskinan ada dalam diri kita dan keluarga. Semua diawali dari kita sendiri. Salah kelola nafsu, hasilnya salah pikiran. Itu sumbernya

32. Saat kemiskinan melilit, mudahkah kita ajak anak-anak sujud pada Allah? Hilang nyawa, mati namanya. Hilang iman, itulah 'KIAMAT'

33. Pejabat negara seperti kepala keluarga. Mesti adil, tak berat sebelah, ikhtiar ada sumber rezeki, tak boros, tak curang, tegakkan aturan

34. Dan ternyata jangan-jangan sumber masalah di hasrat dan cara berpikir. Ketika pejabat negeri punya kepentingan sendiri, maka rusaklah

35. Ibaratkan di keluarga. Bapak kolaborasi dengan ibu dan anak-anak yang kuat dan cerdas | #KemiskinanMenggugat #CharacterBuilding

36. Asset keluarga sebisa-bisanya dikuasai. Lalu kuasai pula tatanan hukumnya | #KemiskinanMenggugat #CharacterBuilding

37. Anak-anak yang lemah tak diurus. Anak-anak yang 'cacat', maaf, tak terpikir. Mereka makan atau tidur dimana, itu urusan masing-masing

38. Saat ada keributan, kerahkan anak yang kuat. Saat ada tuntutan ini itu, beri subsidi. Jika subsidi memberatkan, saatnya nanti cabut lagi

39. Saat anak kesayangan salah, reaksi lambat. Saat yang bukan kesayangan bermasalah, segera tindak. Hukum memilih terhukum

39a. Keluarga kisruh, peta terbelah. Anak kesayangan makin kuat dan kaya. Anak bukan kesayangan tersisih, lemah dan tak berdaya

40. Keluarga kisruh, peta terbelah. Anak kesayangan makin kuat dan kaya. Anak bukan kesayangan tersisih, lemah dan tak berdaya

41. Kira-kira apakah gambaran ini cocok dengan kemelut di Indonesia? Ya tidaknya,tergantung posisi | #KemiskinanMenggugat #CharacterBuilding

42. Esok 6 Sept’14, kita kupas lagi. Agar lebih luas dan mendalam, tentu butuh kupasan anda juga. Jangan ragu, lontarkan pandangan anda

(Kultwit pagi @ErieSudewoID edisi Jumat, 5/9/2014)

Edisi sebelumnya: BAHAYA KEMISKINAN

Recent Post

Proudly Powered by Blogger.